CURHAT: Saya Tumbuh dari Seorang Ibu yang Menjadi Satu-satunya Tulang Punggung Keluarga

Curhat

Akhir-akhir ini saya merasa takut tidak bisa meneruskan studi ke jenjang kuliah, karena saya takut orang tua saya tidak mampu membiayai kuliah saya nanti. Saya juga takut jika saya berkuliah di luar kota, banyak hal-hal buruk akan terjadi kepada keluarga saya, tapi saya tidak tahu apa itu. Hal itu membuat saya semakin sedih, cemas, stres, bingung, dan juga takut.

Saya merasa demikian semenjak kondisi keuangan keluarga saya memburuk. Ditambah, kakak saya berbuat kesalahan berulang-ulang kali, sehingga Ibu saya menjadi sedih dan sakit hati. Bapak saya juga tidak melaksanakan tanggung jawabnya (menafkahi keluarga) sebagai ayah pada umunya, sehingga Ibu saya stres dan banting tulang sendiri demi kelangsungan hidup keluarga.

Saya harap saya bisa mengendalikan diri saya. Saya harap saya tidak cemas, takut, sedih, dan yang pasti hati saya lebih tenang. Saya sudah mencoba untuk curhat kepada sahabat saya, tapi perasaan saya seperti masih ada yang mengganjal. Mohon bantuannya!

Gambaran: Perempuan, 18 Tahun, Pelajar.


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih ya, atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi. Bagaimana kabarmu? Semoga, kamu dalam kondisi yang lebih nyaman saat membaca pesan ini ya.

Dari cerita yang disampaikan, kami bisa memahami betapa kalutnya perasaanmu belakangan ini. Berada pada situasi tersebut tentu tidak mudah ya. Untuk itu, terima kasih, sudah mengijinkan kami masuk dan mengetahui sebagian kesulitan serta kepedihanmu. Sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, mungkin kamu ingin hadir dalam setiap kondisi sulit keluarga dan ikut menguatkan Ibu yang menjadi “penopang keluarga” ya. Kamu anak yang luar biasa! Mungkin, kehadiranmu

ditengah-tengah keluarga menjadi berkat dari Tuhan. Mengapa demikian? Di saat anak-anak seusiamu terkadang masih mementingkan urusan pribadi mereka, namun tidak denganmu. Ketika kamu sangat ingin berkuliah, kamu masih begitu peduli memikirkan kondisi keluargamu. Terima kasih ya untukmu di masa lalu, yang sudah mengusahakan banyak hal untuk membantu orangtua. Lami mengapresiasi usahamu untuk bercerita, karena tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah. Sikap itu menjadi pertanda bahwa kamu ingin memberikan yang terbaik bagi dirimu sendiri sehingga dapat kembali merasa lebih nyaman.

Ketika di penghujung masa SMA, mungkin kamu pun memendam keinginan yang besar untuk berkuliah. Sama seperti kebanyakan anak-anak pada usia tersebut. Nyatanya, seiring waktu berjalan kamu justru diliputi rasa bingung, cemas, takut, hingga sedih. Mungkin, bingung tentang “Apakah aku sebaiknya tetap lanjut berkuliah?; Apa tidak apa-apa jika aku kuliah?” Mungkin, cemas karena memikirkan tentang, Apa Ibu akan baik-baik saja di rumah tanpa aku?; Apa Ayah dan Kakak akan membantu Ibu di rumah saat aku berkuliah di luar kota?; Apa keluargaku akan baik-baik saja selagi aku tidak di rumah?” Mungkin, takut saat terpikir tentang, “Bagaimana jika kondisi keluargaku makin memburuk jika aku berkuliah?; Bagaimana kondisi Ibu tanpa ada aku yang membantunya?; dsb”.

Munculnya berbagai perasaan tersebut menjadi bentuk “akibat” yang wajar atas adanya “sebab” yang jelas, yaitu dari adanya berbagai permasalahan dalam keluargamu. Tidak apa-apa. Memang mungkin akan seperti itu rasanya, jika kami membayangkan ada di posisimu. Sebagai anak perempuan yang begitu peka dan peduli dengan situasi di rumah, kami memahami ketidaknyamananmu. Akan tetapi, kami sangat mendukung keinginanmu untuk dapat mengendalikan diri dari rasa cemas, takut, dan sedih yang berlebihan sehingga hatimu terasa lebih tenang. Good Job sayang!

Nah.. melalui pesan ini kami ingin mengajakmu untuk melihat kembali proses yang terjadi belakangan ini, agar secara mandiri dapat menemukan solusi yang mungkin bisa kamu coba terapkan. Beberapa langkah berikut bersifat alternatif ya, sehingga keberhasilannya bergantung pada berbagai hal. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk kamu coba.

1. Faktor Penyebab dan Cari Solusi

Yuk kenali apa saja faktor penyebab munculnya berbagai perasaan tidak nyaman. Faktor penyebab dapat saja meliputi faktor internal (yang berkaitan dengan dirimu sendiri, seperti: rasa percaya diri, tanggung jawab, komitmen, dll) serta faktor eksternal (yang berkaitan dengan hal-hal diluar dirimu, seperti: kondisi keluarga, lingkungan pertemanan, sekolah, dll). Untuk memudahkan, kamu dapat menulisnya dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.

Contoh:

Perasaan: Khawatir, Takut, Bingung, Sedih

Penyebab: Aku tidak yakin mampu kuliah; Kondisi keuangan keluarga sedang menurun; Ibu kelihatan tidak yakin mengijinkan aku untuk kuliah karena kesulitan biaya

Alternatif solusi: Berunding dengan Ibu, Ayah, Kakak; Mencari beasiswa, dst.

 

2. Faktor Pendukung

Setelah step pertama, yuk tambahkan faktor “Pendukung” dalam tabelmu untuk mencari apa saja faktor-faktor yang sekiranya dapat membantu penyelesaian masalah.

Contoh:

Perasaan: Khawatir, Takut, Bingung, Sedih

Penyebab: Aku tidak yakin mampu kuliah; Kondisi keuangan keluarga sedang menurun; Ibu kelihatan tidak yakin mengijinkan aku untuk kuliah karena kesulitan biaya

Alternatif solusi: Berunding dengan Ibu, Ayah, Kakak; Mencari beasiswa, Berunding dengan guru BK dst.

Pendukung: Nilai akademisku rata-rata bagus; Guru dan Ibu memberi dukungan; Aku bisa bertanya soal beasiswa ke kakak kelas.

 

3. Motivasi atau Target yang Ingin Dicapai

Pada tahapan ini, buatlah daftar keinginan atau target yang ingin kamu capai dalam kehidupanmu ke depan. Daftar ini dapat berfungsi sebagai motivasi internal dari dalam dirimu, jika suatu hari kamu merasa sedang kehilangan semangat dan dorongan untuk maju.

Contoh:

Target 5 tahun ke depan

  • Kuliah 4 tahun di Jurusan Psikologi

  • Ikut dan aktif di organisasi kampus

  • Lulus kuliah

  • Mencari pekerjaan

Usaha yang akan dilakukan

  • Melakukan berbagai persiapan akademis dan ikut seleksi perguruan tinggi dengan jurusan Psikologi

  • Saat diterima di jurusan tersebut, saya akan belajar sungguh-sungguh, mengatur waktu belajar-main-istirahat-organisasi

  • Daftar ke organisasi kampus

  • Serius dan komitmen saat mengerjakan tugas akhir skripsi supaya cepat lulus

  • Cari kerja, lewat jejaring teman atau media sosial

Terkadang keyakinan dari orangtua akan memberikan penguatan luar biasa pada niat serta kesungguhan anak dalam mencapai suatu hal yang dirasa sulit. Jika kamu membutuhkannya, salah satu yang dapat dilakukan adalah mencoba berdiskusi secara terbuka dengan orangtua. Berilah gambaran tentang perkuliahan, atau tunjukkan daftar yang mungkin sudah kamu buat sebelumnya untuk membantu Ayah dan Ibu memahami pemikiranmu. Kami meyakini, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama baiknya di mata Tuhan, untuk menentukan dan mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Maka, mari gunakan berbagai nikmat yang Tuhan titipkan padamu untuk mengupayakan yang terbaik. Tentu, semua itu untuk dirimu yang berharga. Sekian yang dapat kami sampaikan dalamkonsultasi kali ini. Kami memohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Semoga Tuhan memberikan haidah yang pantas untuk segala upayamu ya. Semangat!

Terima kasih telah berbagi

Salam,

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

Gagasan Jung dan Adler Tentang Berdamai dengan Diri Sendiri

Next
Next

Mengenal Lebih Dalam tentang Kepribadian Machiavellianism