CURHAT: Bagaimana Saya Bisa Lepas dari Krisis Kepercayaan Diri?

Curhat

Dear Pijar, saya punya beberapa masalah pribadi yang cukup rumit bagi saya dan butuh pertolongan. Saya bekerja di sebuah perusahaan relatif besar berskala nasional sebagai editor. Awalnya saya bertugas menyunting masalah politik dan saya cukup menikmatinya. Kemudian mendadak saya dipindahkan ke bidang olahraga. Bukan pada objek suntingan yang jadi masalah saya, tapi saya merasa dibuang begitu saja. Soal menyunting objek apapun, saat ini saya merasa mampu. Sekarang berkecamuk di pikiran saya, perasaan dibuang. Masalahnya, sekitar 10 tahun saya menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran untuk bidang politik yang saya suka.

Misalnya saja, saya mengikuti sejumlah pelatihan terkait hingga program magister terkait, dan bahkan sempat mendapatkan undangan di Kedutaan Besar Luar Negeri yang konsen terhadap tema yang kerap saya angkat di media saya. Pada bulan Maret-April 2017, saya diundang kedubes negara itu untuk mengunjungi negaranya dalam rangka kunjungan dan pendalaman soal transparansi, partisipasi publik, dan good governance. Tapi, ketika saya pulang dan masuk kantor pada akhir April mendapati perintah baru bahwa per 1 Mei dipindah ke bidang olahraga. Ini yang membuat saya merasa dibuang. Saya kemudian berpikir lebih dalam tentang diri saya. Sepertinya ada yang salah dalam kepribadian saya.

Belakangan saya merasa bahwa antara apa yang saya pikirkan, saya rasa, dan tindakan tidak sinkron. Saya merasa krisis pada kepercayaan diri. Sejak awal kuliah pada 2001 dulu, saya sudah berkenalan dengan motivasi-motivasi pribadi seperti AMT, NLP. Metode-metode itu dulu saya coba dan cukup efektif. Tapi, sepertinya belakangan ini tak mampu lagi mengatasinya. Saya merasa sedih yang luar biasa. Upaya mengatasi kesedihan dengan mengubah fisik dan mensugesti tak lagi mempan. Saya justru merasa menjadi orang palsu. Saya sedih tapi mencoba senyum dan tertawa ceria di depan rekan kantor. Ini justru menyulitkan ketika label baru melekat pada diri saya, orang palsu. Terkadang yang saya ungkapkan justru paradoks-paradoks. Saya jadi tidak mengenal diri saya sendiri lagi.

Krisis kepercayaan diri ini juga membuat saya selalu tersenyum dan tertawa saat bicara. Ini menjadi pihak pendengar tidak jelas dan bingung. Senyum di sini bukan senyum ramah (iya memang ramah senyumannya), tapi saya tersenyum lebih karena saya tidak percaya diri dengan apa yang saya katakan. Saya selalu merasa takut apa yang saya sampaikan adalah kesalahan. Ini saya merasa harus membuat orang lain senang dan tak mau terjadi konflik sedikit pun. Kenyataanya, saya justru kerap berkonflik dengan orang. Ketika saya jengkel, saya seperti anak kecil yang sedang tantrum. Tapi ini spontan dan hanya untuk diri saya sendiri karena rasa pengecut dan penakut lebih dominan. Ketika saya tidak setuju, saya lebih sering hanya membatin. Sudah ada keinginan menyampaikan tapi tak keluar juga. Justru setelah meeting selesai atau momen sudah lewat, baru berkecamuk di pikiran saya, seharusnya tadi begini atau begitu. Saya sekarang punya banyak kegiatan sampingan selain bekerja di pekerjaan utama. Pekerjaan utama saya sebagai editor, tapi saya juga trading saham, mempunyai bisnis online, kemudian membuat artikel di platform lain. Ini juga membuat saya tidak fokus. Sebagai informasi, saya pria, berusia 36 tahun, dan jomlo.

Gambaran: Laki-laki, 36 tahun, Karyawan

Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaan kamu untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Saya paham apa yang kamu alami saat ini. Ada perasaan terbuang, marah, kecewa, dan tidak terima karena kemampuan dan totalitas kamu dalam berkarier sebagai editor kurang dihargai sebagaimana mestinya oleh para rekan kerja. Ada juga perasaan sedih dan tidak berdaya karena berbagai usaha yang telah kamu lakukan untuk membuat kondisi diri menjadi lebih baik terasa sia-sia. Selain itu, ada juga perasaan takut dan khawatir apabila yang Anda katakan atau lakukan kepada orang lain justru menyakiti perasaan mereka.

Sebelumnya, saya sangat mengapresiasi niat baik kamu. Terima kasih karena kamu telah memilih untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan juga merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri apa adanya. Terima kasih karena selama ini telah terus-menerus melakukan berbagai upaya untuk membuat diri kamu semakin membaik.

Terkait dengan apa yang kamu alami saat ini, ada satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu. Bagaimana cara kamu melihat diri sendiri menunjukkan bagaimana cara kamu berinteraksi dengan orang lain, dengan pengalaman diri, bahkan dengan diri sendiri. Tidak heran bila kamu merasa takut dan khawatir akan menyakiti perasaan orang lain ketika berinteraksi dengan mereka karena ada keraguan di dalam diri kamu akan kemampuan yang dimiliki.

Terdapat dua cara untuk melihat diri sendiri (atau keberhargaan diri), yaitu bersyarat dan tanpa syarat.

  1. Keberhargaan diri bersyarat menunjukkan bahwa “Saya percaya pada diri sendiri jika …

… saya menang dan orang lain kalah”

… saya memiliki berbagai prestasi sebagai editor”

… saya lebih pintar dari orang lain”

… orang lain setuju dengan ide-ide saya”, dst.

Hal tersebut menunjukkan bahwa “Saya merasa OK jika …” ada situasi eksternal. Tanpa adanya pengakuan, persetujuan, atau dukungan dari orang lain, kamu akan merasa tidak percaya diri. Bahkan, mungkin kamu akan cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan mengakibatkan setiap saran yang disampaikan orang lain terhadap kamu dapat dipersepsi sebagai serangan. Apabila hal tersebut terjadi secara terus menerus, dapat meningkatkan risiko masalah psikologis (misal: stres, cemas, depresi), masalah relasi, masalah kesehatan, kesulitan dalam bekerja, atau masalah lainnya.

  1. Keberhargaan diri tanpa syarat

Hal ini terwujud ketika kamu percaya pada diri sendiri dan mandiri (tidak bergantung pada situasi eksternal). Percaya pada diri sendiri ketika kamu menjadi diri sendiri dan mengenal kekuatan serta potensi diri. Ketika kamu hidup dengan keberhargaan diri tanpa syarat, kamu akan merasa damai dengan diri sendiri dan orang lain, serta nyaman menjadi diri sendiri. Kamu akan merasa bahagia dengan kesuksesan orang lain tanpa merasa mereka lebih baik darimu. Kamu juga akan lebih mampu mendengarkan dan menerima saran dari orang lain secara terbuka, tanpa merasa tersinggung dengan sikap mereka.

Salah satu hal yang dapat menghambat diri kita merasa berharga sehingga menjadi tidak percaya diri adalah adanya inner critic. Inner critic merupakan suara di dalam diri yang mengatakan hal-hal negatif mengenai diri sendiri sehingga tanpa disadari dapat mengarahkan kita menjadi pribadi yang perfeksionis. Ketika kita merasa gagal atau berbuat salah dalam melakukan sesuatu, secara otomatis kita berkata kepada diri sendiri “Aku payah, gitu aja gak bisa. Bodoh banget. Memang aku gak bisa apa-apa”. Tanpa disadari, inner critic tersebut terus berulang hampir di setiap hari sehingga membuat diri kita menjadi stres dan tegang, bahkan berdampak pada relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita. Kita merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan kita yang sebenarnya kepada mereka. Bahkan mungkin kita juga menjadi pribadi yang mudah tersinggung dengan perkataan atau sikap mereka terhadap diri kita.

Lalu apa yang dapat kamu lakukan untuk dapat meningkatkan rasa percaya diri?

  1. Ambillah waktu sejenak untuk mengenal diri kamu sendiri. Kenalilah hal apa yang menjadi kekuatan atau potensi diri kamu.
  2. Kenali juga: Dengan apa yang kamu alami saat ini, kondisi ini memberikan kamu kesempatan untuk mengembangkan kekuatan atau potensi diri yang mana?
  3. Berlatihlah mengembangkan kekuatan atau potensi diri kamu tersebut.
  4. Lakukanlah hobi atau hal-hal yang menyenangkan.
  5. Ubahlah persepsi kamu mengenai kegagalan atau kesalahan. Ketika kamu melakukan sesuatu, tidak ada yang namanya kegagalan atau kesalahan, yang ada hanyalah data untuk memperkaya pengalaman kamu dalam mengenali dirimu sendiri.
  6. Beraktivitaslah dengan sadar penuh. Kita tidak akan dapat mengubah diri apabila kita tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan saat ini.
  7. Bersyukurlah atas hal-hal sederhana yang telah kamu alami atau kamu miliki saat ini dan lakukan setiap hari.

Kita juga perlu menyadari bahwa ada banyak hal di luar diri kita yang tidak dapat kita kontrol. Oleh karena itu, kita perlu berlatih untuk ikhlas menerima dan melepaskan – menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah dan menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, serta melepaskan ekspektasi kita.

Ikhlas menerima yaitu menerima pengalaman (pikiran dan perasaan) kita apa adanya tanpa menilai. Pada umumnya, tanpa disadari, kita cenderung menahan atau menolak emosi tertentu yang kita nilai negatif (misal: marah, khawatir, takut). Dengan latihan menyadari, kita berlatih untuk mengistirahatkan pikiran kita dengan menerima emosi tersebut apa adanya, tidak ada yang baik atau buruk, benar atau salah, positif atau negatif. Kita belajar untuk jujur pada diri sendiri dengan mengakui bahwa saat ini ada emosi tertentu yang kita rasakan di dalam diri. Setelah kita mengakuinya, akan lebih mudah untuk menerima ketidaknyamanan yang ada di dalam diri saat ini.

Di awal, kita perlu berlatih menyadari napas yang selama ini mungkin sering kali tidak kita sadari secara penuh. Bagaimana rasanya saat kita menghirup dan mengembuskan napas. Melalui latihan menyadari, kita berlatih menjadi “pengamat” atas pikiran dan perasaan yang kita alami saat ini. Kita berlatih menerima emosi negatif atau pikiran negatif apa adanya, tanpa berusaha untuk mengubah atau menolak emosi atau pikiran tersebut. Kita berlatih untuk “berdamai dan bersahabat” dengan emosi atau pikiran tersebut dan juga merawatnya dengan welas asih.

Bagaimana caranya?

Sebaiknya kamu mengenali dan memahami diri kamu terlebih dahulu.

  1. Siapkanlah alat tulis di dekat kamu.
  2. Kemudian duduklah di suatu tempat yang tenang dan berusahalah sewajarnya untuk benar-benar fokus sepenuhnya.
  3. Arahkan perhatian ke dalam diri dan sadarilah apa yang mengikat/menjerat langkah kamu.
  4. Sadari setiap keinginan yang muncul di dalam diri kamu untuk menghindar/melarikan diri dari kenyataan. Sadari perasaan yang tidak rela mengikhlaskan di dalam dirimu.
  5. Sadari kerugian yang kamu dapatkan ketika tidak ikhlas melepaskan.
  6. Sadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkan hal-hal yang selama ini terus digenggam dan tidak mampu diikhlaskan.
  7. Setelah kamu menyadarinya, tulislah di selembar kertas mengenai apa yang selama ini mengikat/menjerat dirimu dan kerugian apa yang kamu dapatkan ketika tidak ikhlas melepaskannya.
  8. Kemudian lakukan latihan ikhlas menerima dan melepaskan.

Berikut langkah-langkah latihan ikhlas menerima dan melepaskan.

  1. Duduklah dalam posisi yang nyaman. Kamu dapat duduk di kursi atau bersila di lantai.
  2. Duduklah dengan punggung, leher, dan kepala tegak menghadap ke depan. Santai dan rileks.
  3. Letakkan kedua tangan di atas lutut dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas.
  4. Pejamkan mata, agar pikiran tidak terlalu aktif.
  5. Sadari dan rasakan napas yang kamu hirup dan hembuskan. Rasakan segarnya udara yang kamu hirup mengalir masuk ke dalam lubang hidung, turun ke tenggorokan, masuk ke paru-paru, dan perut kamu terasa mengembang. Rasakan hangatnya udara yang kamu hembuskan mengalir dari paru-paru, naik ke tenggorokan, keluar melalui lubang hidung dan rasakan perut kamu mengempis. Fokuskan perhatian kamu pada sensasi yang kamu rasakan di hidung, dada, atau perut kamu saat sedang bernapas.
  6. Apabila ada pikiran dan perasaan yang hadir dalam diri kamu, tidak apa-apa, hal tersebut wajar. Berikan waktu sebentar, izinkan pikiran dan perasaan hadir dalam dirimu. Sadari pikiran dan perasaan apa itu.
  7. Akui pikiran dan perasaan tersebut ada di dalam diri kamu dan katakan sepenuh hati kepada diri sendiri (misal: “Ya, ada perasaan kecewa dan tidak terima di dalam diri saya saat ini”).
  8. Terima pikiran dan perasaan tersebut ada di dalam diri kamu dan katakan sepenuh hati kepada diri sendiri (misal: “Saya menerima ada perasaan kecewa dan tidak terima di dalam diri saya saat ini. Saya ikhlas, saya pasrah, menerima perasaan kecewa dan tidak terima yang ada di dalam diri saya saat ini”). Terima pikiran dan perasaan tersebut apa adanya, tanpa menilai, tanpa menahan, dan tanpa menolaknya.
  9. Terima diri kamu yang belum dapat menerima pikiran dan perasaan tersebut, katakan sepenuh hati kepada diri sendiri (misal: “Saya menerima diri saya yang belum dapat menerima rasa kecewa dan tidak terima ini. Saya ikhlas, saya pasrah, menerima diri saya yang belum dapat menerima rasa kecewa dan tidak terima ini. Saya ikhlas, saya pasrah, menerima diri saya yang belum mampu untuk ikhlas dan pasrah”).
  10. Kemudian rawatlah dengan welas asih. Peluklah diri kamu sendiri hingga diri kamu merasa semakin nyaman. Lalu perlahan-lahan, kembalikan fokus perhatian kamu kepada napas. Bayangkan setiap kali kamu mengembuskan napas, melepas pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri melalui embusan napas hingga merasa lebih baik.
  11. Lakukan latihan ini selama 5-10 menit. Kemudian, perlahan-lahan sadari keberadaan kamu di sini-kini. Perlahan-lahan gerakkan jari-jari kaki dan tangan. Bukalah kedua mata secara perlahan-lahan.

Setelah kamu melakukan latihan ikhlas menerima dan melepaskan, cobalah tanyakan kepada diri:

Pikiran apa yang hadir di dalam diri ? Perasaan apa yang hadir di dalam diri ? Sensasi/reaksi apa yang kamu rasakan pada tubuh ? Perubahan apa yang terjadi pada diri kamu saat dan setelah melakukan latihan? Lalu renungkanlah sejenak, hal-hal sederhana apa yang masih dapat kamu syukuri hingga saat ini? Hal-hal sederhana apa yang dapat kamu lakukan saat ini untuk membuat diri merasa lebih baik?

Semoga kamu mendapatkan manfaat baik dari membaca informasi ini. Selamat berlatih.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.

 

Let others know the importance of mental health !