19 Hal yang Perlu Dilakukan Terhadap Anak Pelaku Bullying (Part 1)

Belakangan publik dikejutkan dengan pemberitaan mengenai kasus perundungan (bullying) dan kekerasan. Kasus itu diawali tagar viral untuk mendukung keadilan bagi korban (#justiceforaudrey) dan sekarang dihiasi tagar viral yang menyebutkan bahwa korban juga bersalah karena sikapnya yang kasar dan tidak sopan (#audreyjugabersalah).

Fenomena bullying sebenarnya adalah fenomena yang marak terjadi di masyarakat, tetapi kali ini menjadi viral karena media dan warganet turut berpartisipasi dalam mengawal kasus yang sedang terjadi. Bullying ada di sekitar kita, bahkan hampir semua orang pernah menjadi korban dan melakukan bullying itu sendiri, atau minimal menjadi saksi (bystander). Lalu, ketika seorang anak adalah pelaku bullying, maka apa yang sebaiknya kita lakukan?

Definisi Bullying

Bullying merupakan tindakan agresif yang ditandai dengan dua kategori utama. Pertama, tindakan ini terjadi berulang-ulang. Kedua, tindakan ini melibatkan dua pihak yang memiliki perbedaan tingkat kekuasaan (power). Bullying dapat dilakukan secara individual atau berkelompok. Tindakan ini dapat terjadi dimana saja, baik di sekolah, tempat kerja, media sosial, penjara, bahkan di dalam keluarga.

Berdasarkan bentuknya, bullying dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Bullying verbal dapat berupa memanggil dengan nama yang tidak disukai, mengejek, atau mengintimidasi. Bullying secara nonverbal ditandai dengan aksi fisik seperti memukul, mendorong atau merusak barang seseorang. Jenis lain dari bullying adalah social bullying, misalnya menyebarkan aib dan rumor tentang seseorang atau secara sengaja mengucilkan seseorang. Ada juga cyberbullying yaitu bullying yang dilakukan di media internet. Contohnya adalah komentar kasar dan menghina di media sosial seseorang.

Mengapa Mereka Melakukan Bullying?

Ada banyak hal yang menjadi alasan seseorang melakukan tindakan bullying. Di bawah ini merupakan beberapa alasan yang mendasari seseorang melakukan bullying.

1.Berusaha Mempertahankan Dominasi dan Kedudukan.

Salah satu penyebab seseorang melakukan bullying adalah keinginan untuk mempertahankan dominasi dan kedudukan yang saat ini mereka miliki. Orang yang melakukan bullying diketahui menikmati kedudukan mereka, secara sosial dan kekuasaan mereka cenderung berada lebih tinggi dibandingkan korbannya. Dengan melakukan bullying, mereka akan merasa lebih dominan dan lebih kuat daripada ‘korbannya’. Hal tersebut yang membuat mereka terus menerus melakukan bullying untuk mempertahankan dominasi yang sudah mereka dapatkan.

2. Ingin Diterima Oleh Teman Sebaya.

Adanya tekanan dan rasa ingin diterima (konformitas) oleh orang-orang di dalam kelompoknya juga merupakan salah satu penyebab seseorang melakukan bullying. Hal ini banyak terjadi pada kasus bullying di sekolah, terutama pada remaja. Remaja yang lekat dengan kelompok sebayanya (peer group) memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun yang dikehendaki teman-temannya agar merasa klop dengan teman-temannya. Adanya rasa ingin diperhatikan yang tinggi juga berperan dalam hal ini.

3. Korban Kehidupan yang Keras.

Sebagian orang yang melakukan bullying merupakan korban dari berbagai aspek hidup yang keras. Ada yang menjadi korban dari pola asuh orang tua, korban kekerasan saudara, korban bullying dari orang lain atau bahkan korban dari ketidaknyamanannya sendiri, seperti ingin mendapatkan perhatian.

Baca juga: Pelaku bullying sebenarnya juga korban di sini.

Ketika Bullying Terjadi, Apa yang harus dilakukan?

Jika Kita Adalah Orang Tua dari Anak yang Melakukan Bullying

Orang tua merupakan sosok yang membentuk anak sejak lahir hingga dewasa. Ketika ada perilaku anak yang kurang baik, maka orang tua sering dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab. Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan orang tua saat mengetahui anaknya menjadi orang yang melakukan bullying.

1.Orang Tua Tidak Perlu Menyalahkan Diri Sendiri.

Menghadapi kenyataan bahwa anak melakukan bullying merupakan hal yang tidak menyenangkan. Terkadang orang tua justru fokus pada perasaan malu dan bersalah sehingga mereka mengambil langkah yang keliru untuk merespon hal ini. Orang tua cenderung memarahi tanpa menanyakan perasaan anak terlebih dahulu. Padahal, amarah mungkin bukan hal yang dibutuhkan anak saat itu. Perasaan-perasaan yang dirasakan orang tua ini perlu dikesampingkan terlebih dahulu agar orang tua dapat fokus pada apa yang anak rasakan dan memperbaiki situasi dengan kepala dingin.

2. Berbaikan dengan Pihak yang Di-bully dan Keluarganya.

Ketika orang tua mengetahui anak melakukan bullying, hal yang penting dilakukan adalah berusaha berbaikan atau berdamai dengan pihak yang di-bully. Berdamai yang dimaksud bukan berusaha melupakan hal yang sudah terjadi dan move on dengan hidup masing-masing. Namun, berdamai untuk berusaha membicarakan kejadian bullying dengan kepala dingin dan saling memperhatikan serta mengevaluasi perilaku masing-masing. Hal ini juga perlu dilakukan agar anak yang terlibat bullying tidak merasa bermusuhan dengan korban dan dapat kembali berteman dengan baik. Orang tua dari kedua belah pihak juga perlu saling bertukar kabar untuk memantau apakah perilaku dan kemungkinan tindakan bullying terjadi di kemudian hari.

3. Ketahui Alasan Anak Melakukan Bullying.

Apapun alasan yang mendasari anak untuk melakukan bullying bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Tentunya, orang tua diharapkan dapat berdialog dengan anak untuk mengetahui apa alasan di balik perilaku bullying tersebut. Bisa jadi anak merasa kurang diperhatikan oleh orang tua. Dengan mengetahui alasan sebenarnya anak melakukan bullying, diharapkan orang tua dapat mengetahui solusi terbaik yang bisa dilakukan.

4. Mencari Solusi Atas Permasalahan yang Memicu Anak Melakukan Bullying.

Ketika orang tua mengetahui masalah anak dengan baik, maka orang tua akan lebih mudah menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Misalnya ketika alasan anak melakukan bullying adalah karena frekuensi quality time dengan orang tua sedikit, maka orang tua dapat mengevaluasi diri dan berusaha memberikan waktu yang lebih banyak untuk anak.

5. Hindari Memberi Label Pada Anak.

Saat mengevaluasi perilaku anak dan mengajaknya berkomunikasi, sebisa mungkin untuk menghindari memberikan label pada anak. Hindari menyebut anak dengan sebutan “anak nakal” atau “sok jagoan”. Dalam proses pendewasaan, perilaku anak bisa saja berubah. Namun terkadang label yang diberikan sudah terlanjur melekat, baik pada masyarakat maupun di dalam benak anak itu sendiri. Akibatnya, saat anak sudah berubah menjadi lebih baik, ia akan kesulitan untuk mengubah image dan stigma yang melekat pada label tersebut.

6. Berikan Konsekuensi yang Tepat dan Meaningful.

Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah mempertimbangkan dan memberikan konsekuensi yang tepat. Konsekuensi yang diberikan juga harus diikuti dengan penjelasan bahwa apa yang ia lakukan bukan hal yang baik dan menyakiti orang lain. Salah satu contoh konsekuensi yang dapat dilakukan adalah menyita sementara gadget yang dimiliki anak jika anak melakukan cyberbullying. Serta, sang anak diminta untuk meminta maaf kepada pelaku baik lewat sosial media dan juga dalam kehidupan nyata.

7. Evaluasi Diri Sendiri, Keluarga dan Cek Apakah Bullying Juga Terjadi di Lingkungan Keluarga.

Sebagai orang tua, penting untuk melakukan evaluasi tentang apa yang terjadi di rumah yang bisa saja memicu anak untuk melakukan bullying. Orang tua perlu mengecek ulang apakah pola pengasuhan yang diterapkan di dalam keluarga sudah tepat. Atau evaluasi mengenai komunikasi dengan anak, apakah sudah berjalan dengan lancar? Orang tua juga perlu mengecek kembali apakah di antara saudara kandung terjadi bullying pula. Ada banyak tanda-tanda ketika pertengkaran antarsaudara sudah termasuk ke dalam kategori bullying dan bukan hanya persaingan biasa. Hal ini penting dilakukan agar keluarga sebagai suatu kesatuan juga dapat berkembang dengan baik.

8. Berkunjung ke Pihak Profesional.

Ada kalanya orang tua tidak bisa menemukan alasan dan solusi tentang perilaku bullying yang dilakukan anak. Mungkin inilah saatnya orang tua perlu mengajak anak bertemu dengan pihak profesional seperti psikolog. Hal ini juga penting dilakukan ketika perilaku bullying yang dilakukan anak sudah sampai pada tingkatan ekstrim, misalnya membahayakan nyawa orang lain. Psikolog akan membantu orang tua mengurai masalah yang terjadi sehingga dapat diatasi dengan lebih baik.

***

Bullying ada di sekitar kita, siapapun bisa menjadi korban bahkan pelakunya. Tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab atas terjadinya bullying. Namun, semua pihak di lingkungan sosial seorang anak pelaku bullying-pun juga bertanggung jawab atas terjadinya tindakan tersebut. Bagaimana seharusnya kita, sebagai guru/pengajar di sekolah, teman, saksi dan masyarakat umum menyikapi pelaku bullying? Nantikan artikel selanjutnya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal-hal yang bisa dilakukan sebagai guru, teman, saksi (bystander) dan orang asing ketika ada bullying/cyberbullying!

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*