Aku Mau Menikah di Waktuku Sendiri, Bukan dengan Perjodohan

Tahun ini saya memasuki usia 23 tahun. Usia di mana dianggap telah layak untuk menikah dan membangun keluarga. Namun, apa yang ada di pikiran saya malah sebaliknya. Saya belum ingin menikah, calon pasangan pun tidak punya. Akan tetapi, tekanan dari orangtua bahkan lingkungan pertemanan orangtua semakin mendorong saya untuk segera menikah.

Wajar Orangtua Cemas

Selama 23 tahun hidup, masa remaja serta perjalanan menuju dewasa saya tidak pernah diisi dengan hubungan romantis bersama laki-laki. Mendapat pernyataan suka dari laki-laki pun tidak pernah. Ketiadaan pengalaman tersebut menjadi salah satu penyebab kecemasan orangtua terhadap hidup saya. Pertanyaan yang sering muncul ketika bertemu orangtua adalah, “Kapan dikenalin sama cowo kamu?” atau “Gimana? Udah ada cowo yang nembak kamu belum? Ada cowo yang deketin?

Jawaban yang saya berikan selalu sama. Kalau tidak menjawab, “belum ada”, maka akan menjawab “doain aja ya, semoga ketemu yang baik.”

Sesungguhnya saya memahami kecemasan orangtua. Saya juga telah memaklumi dan kebal ketika pertanyaan tersebut dilontarkan. Namun ternyata, saya kembali cemas ketika lingkungan pertemanan orangtua turut menanyakan hal tersebut kepada saya.

Candaan terhadap Perjodohan

Saya cukup mengenal teman-teman orangtua saya, terutama teman-teman Ibu saya. Tak jarang saya ikut menghabiskan waktu bersama Ibu dengan teman-temannya sejak kecil sampai sekarang. Tapi siapa sangka, pertemuan dengan teman-teman Ibu malah membuat saya merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini karena candaan perjodohan yang dilakukan oleh mereka. Terus-menerus ditanyakan siapa pasangan saya sekarang, kapan berencana menikah, serta ditawarkan untuk berkenalan dengan anak atau keponakan mereka. Candaan terasa semakin agresif ketika tiba-tiba Ibu mengirimkan foto laki-laki untuk dikenalkan.

Ketika saya merespons candaan tersebut dengan pernyataan, “udah santai saja, nanti juga ketemu waktunya. Masih banyak yang ingin saya lakukan.” Saya malah mendapat serangan balik berupa ceramah bernada memojokkan, “sampai kapan mau nunggu? Kamu udah 23. 25 tahun itu udah jadi peringatan untuk segera menikah. Kalau ditunda terus nanti malah lupa. Gak berasa taunya udah 30 tahun. Kalau udah 30 tahun, ketika anakmu masuk kuliah, kamu udah usia 50 tahun. Itu juga kalo langsung punya anak, kalo nggak?”

Saya hanya bisa diam sambil menghela napas saat mendengarnya. Yang mengesalkan adalah pernyataan itu bukan disampaikan oleh orangtua, melainkan oleh teman Ibu saya. Setelah pernyataan itu dilontarkan, saya menjadi cemas ketika bertemu teman-teman Ibu saya lainnya.

Kenapa Harus Mempersalahkan Pernikahan?

Mungkin saya tidak sendirian menghadapi pertanyaan “kapan menikah” atau menerima candaan tentang perjodohan. Pertanyaan itu juga tidak salah untuk ditanyakan tetapi jadi masalah karena kita menjadi terganggu karenanya. Seperti yang terjadi pada diri saya. Bukannya saya tidak ingin menikah. Hanya saja banyak yang ingin saya lakukan dimana saya merasa itu akan sulit dilakukan ketika saya sudah menikah. Saya masih ingin mengejar impian, melanjutkan pendidikan, serta mengeksplorasi diri saya. Saya masih ingin bebas menikmati waktu sendiri bersama relasi dekat tanpa ada perubahan berarti karena sudah terikat komitmen dengan orang lain. Terdengar klise memang, tapi ya begini adanya alasan yang ada di pikiran saya.

Di sisi lain, kenapa harus terjebak dengan pernyataan “batas maksimal menikah itu 25 tahun?” Seolah membuat hidup saya semakin cemas akan hal yang belum tentu pasti akan terjadi dalam 2 tahun lagi. Bukankah lebih baik berfokus pada apa yang mungkin saya capai dan inginkan, dimana hal tersebut lebih jelas untuk saya rincikan langkah-langkah pencapaiannya daripada mencari pasangan yang belum tentu bertemu entah dimana?

Di Balik Alasan Tersebut, Saya juga Cemas

Saya menyadari, ternyata ada kecemasan dan keraguan yang menyelimuti diri untuk menjalin hubungan dengan laki-laki. Saya mengakui saya sulit terbuka untuk laki-laki dalam urusan hubungan romantis. Membayangkan harus berkenalan dengan laki-laki baru, melakukan pendekatan, hingga akhirnya menjalin pernikahan.

Bukannya saya tidak ingin berkenalan dengan orang baru, hanya saja, berkenalan dengan alasan “dijodohkan” seperti yang menjadi bahan candaaan dari teman-teman Ibu terkesan aneh untuk saya lakukan. Akan terasa lebih baik jika berjalan apa adanya, tanpa harus ada yang direncanakan dengan sengaja, termasuk jika saya harus menyetujui candaan perjodohan Ibu dengan teman-temannya.

Belum lagi mendengar kisah yang kurang baik dari lingkungan sekitar dengan kehidupan pernikahannya. Hal tersebut juga membuat saya tidak ingin terburu-buru untuk menikah.

Memang Menikah Bisa Membuat Orangtua Bahagia

Sebagian orang percaya, menikah adalah salah satu cara membahagiakan orangtua. Dengan menikah, orangtua akan merasa aman dan tenang untuk melepaskan anak seutuhnya. Tanggungjawab orangtua untuk mengurus anak juga seolah-olah telah selesai. Tidak lagi harus mencemaskan siapa yang akan mendampingi hidup atau mengkhawatirkan siapa yang akan melindungi serta menjaga anaknya. Ditambah lagi, melalui pernikahan, impian orangtua untuk melihat cucu juga akan tercapai. Melihat generasi selanjutnya yang akan menemani dan melanjutkan kehidupan keluarga.

Namun sayangnya, pernikahan bukan hal yang mudah dilakukan. Terlebih lagi bagi yang memiliki keraguan untuk menjalin hubungan beserta berbagai macam alasan yang menahan diri untuk segera menikah. Yang disayangkan, sulit juga bagi saya untuk mengomunikasikan hal ini bersama orangtua. Membayangkan respons orangtua yang akan marah dan tidak memahami apa yang saya rasakan adalah hal yang saya takutkan. Jangan-jangan saya malah akan semakin didorong untuk mencoba perjodohan yang direncanakan orangtua bersama teman-temannya.

Terlalu Egoiskah Kalau Anaknya Ingin Bahagia?

Setiap manusia punya rencana dan impian hidup yang beragam. Ada yang ingin menikah segera, ada yang tidak. Ada yang ingin fokus mengembangkan karir dan pendidikan, ada yang menjalani apa adanya saja yang dimiliki sekarang. Semua persoalan itu adalah kebebasan bagi diri seseorang untuk mewujudkannya.

Terutama untuk persoalan menikah. Mengapa seseorang masih dianggap belum bahagia hidupnya jika ia belum menikah? Dilihat sebagai momok keluarga ketika masih berstatus lajang meskipun telah berhasil dalam karir dan pendidikannya. Terlalu egoiskah bagi seorang anak yang ingin berfokus mencapai apa yang diinginkan dimana menikah belum masuk dalam daftar keinginannya? Salahkah bagi seorang anak yang menolak perjodohan dari orangtua karena merasa ingin memilih sendiri siapa yang pantas bagi dirinya?

Mungkin saja, daripada merasa bersalah karena belum memenuhi keinginan orangtua untuk menikah, lebih baik berlari ke tempat yang jauh sekalian dari orangtua. Berjuang di tempat yang jauh, dengan alasan sedang meniti karir dan pendidikan untuk kesuksesan hidup dirinya kelak. Hingga akhirnya, merasa menemukan waktu yang tepat untuk menemukan pasangan dan mengenalkannya pada orangtua.

 

Rubrik #ceritakami adalah sumbangan tulisan pembaca yang berisikan insight dan cerita akan perjalanan mental illness mereka. Rubrik ini bukanlah rubrik curhat yang akan dibalas oleh psikolog. Jika Anda ingin curhat ke psikolog kami, silahkan masuk ke menu konsultasi.


Zahrah Nabila

a psychology student who is still learning and should treat herself first, before treat others

Previous
Previous

CURHAT: Saya Tidak Bisa Merasakan dan Mengekspresikan Emosi

Next
Next

“Cantik” Tanpa Kosmetik: Secercah Kecantikan yang Tidak Disadari