Cerita Kami: 42 Kali ke Psikolog, Apa yang Saya Dapatkan?

Kemarin adalah hari bersejarah bagi saya, karena pada akhirnya saya merasa cukup, saya merasa selesai dengan berbagai terapi psikologis yang saya jalani. Sejak didiagnosa depresi pada tahun 2014, saya terus menerus mencari bantuan profesional untuk menyembuhkan diri saya.

Terapi psikologis bukanlah sekadar ngobrol-ngobrol santai dan curhat. Ada banyak teknik yang digunakan untuk menemukan akar dari masalah pikiran dan perasaanmu, bahkan tubuhmu. Kadang badan saya demam sehabis terapi.

Rasanya lelah sekali. Ada satu momen di penghujung 2016, saya menangis sesaat ketika saya keluar dari ruang dokter yang memberikan surat rujukan ke psikiater. Saya menangis karena merasa lelah, mengapa saya harus menjalani ini semua? Saat itu saya sedang berada di Inggris. Dokter di sana memberikan saya surat rujukan untuk bertemu psikiater dan menjalani 9 kali sesi terapi bersama psikolog. Saya lelah, benci dengan keadaan dan rasanya sudah tak sanggup lagi menjalankan sesi-sesi terapi.

Sejak masih berada di Indonesia pada tahun 2014, sebenarnya saya sudah menjalani terapi yang cukup intens. Namun sayangnya, harus terputus-putus karena kendala biaya dan juga saya harus segera pergi ke Inggris untuk melanjutkan studi master selama 1 tahun. Berikut adalah daftar terapi yang pernah saya jalani:

 Indonesia, 2014 – 2015

1 sesi solution focus brief therapy

2 sesi cognitive behavioral therapy (mendapat diagnosa depresi)

9 sesi terapi transpersonal

5 sesi terapi kinesiologi*

1 kali terapi neuro linguistic programming*

 Inggris, 2017

3 kali solution focus brief therapy

9 sesi cognitive behavioral therapy

1 sesi asesmen psikiater rumah sakit (mendapat diagnosa dysthymia)

1 sesi singkat dengan psikiater di kampus (mendapat diagnosa double depression)

4 sesi terapi kelompok psikodrama

1 sesi hipnoterapi*

(juga ditambah antidepressant selama 6 bulan)

 Indonesia 2018

1 sesi solution focus brief therapy

4 sesi kinesiologi

Yang saya sebutkan di atas belum termasuk 10 kali menelepon layanan curhat (breathing space) dan beberapa kali menelepon layanan darurat bunuh diri di Inggris. 8 kali sesi akupuntur pun saya lalui karena aliran chi saya katanya lemah dan berantakan. Ditambah lagi, kelas-kelas healing seperti mindful drawing, biodanza, consciousness dance, dan berbagai retret meditasi yang saya tujukan agar bisa mengendalikan pikiran saya. Semua dengan tujuan untuk mengeksplorasi diri saya sendiri.

Hal ini juga masih di luar curhat colongan sama teman-teman, menangis di kafe, bahkan menangis di warung tenda pinggir jalan dan warung burjo sambil dilihat abang penjaga warung yang lagi masak mi goreng. So much drama and tears.

Apa yang Saya Syukuri?

Di luar segala rasa lelah dan perasaan ingin menyerah, kini saya bisa menertawakan perjalanan depresi saya. Saya bersyukur pernah melalui berbagai terapi. Karena berkat terapi-terapi itu, tidak hanya ‘sembuh’ dari gangguan mental yang saya alami, saya juga menjadi manusia yang jauh lebih baik karena semakin memahami mekanisme pikiran dan emosi saya. Saya pun jadi bisa membantu teman-teman saya yang membutuhkan pertolongan dan menuliskan pengalaman saya selama depresi. Ditambah lagi, secara nalar, saya paham harus merekomendasikan terapi apa atau psikolog mana untuk setiap orang yang berbeda. Sehingga teman-teman saya tidak perlu melalui perjalanan gonta-ganti terapi seperti saya.

Mengapa Saya Tidak Malu Bercerita?

Saya tidak malu untuk menceritakan bahwa saya pernah depresi atau memiliki gangguan jiwa. Bagi saya, saat ini adalah era authenticity dan vulnerability. Era di mana kita bisa terbuka mengenai diri kita yang sebenarnya dan menerima kekurangan kita. Saya pun ingin menunjukan ke teman-teman bahwa pergi ke psikolog bukanlah hal yang memalukan. Kalian tetap manusia yang baik dan hebat walaupun kalian pergi ke psikolog, sama seperti ketika kalian pergi ke dokter. Biarpun saya 40++ kali bolak-balik terapi, saya masih bisa menjadi anak muda Indonesia yang cukup berprestasi. Saya bisa menamatkan studi master saya di Inggris, saya juga salah satu awardee YSEALI di Amerika Serikat. Saya pun mendirikan beberapa organisasi dan startup, salah satunya Pijarpsikologi.org. You are not less human if you visit psychologist.

Saya sama sekali tidak menganjurkan orang-orang untuk berpuluh puluh kali terapi. Semua tergantung keadaan finansial, waktu dan kesempatan. Saya mengenal beberapa teman yang 10 kali terapi sudah jauh lebih membaik. Ada juga yang 3 kali terapi sudah cukup. Semuanya benar-benar tergantung  kondisi masing-masing. Dan yang lebih utama adalah tergantung kata hati. Selama ini saya selalu merasa tidak pernah selesai dengan terapi yang saya jalani. Tetapi pada akhirnya, saya merasa selesai. Saya merasa cukup. Setidaknya hingga beberapa tahun ke depan saya yakin saya tak perlu ke psikolog lagi. Etos kerja saya pun membaik, hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya membaik.

Mungkin saya membutuhkan banyak terapi karena diagnosa saya double depression dan saya sudah memiliki pikiran bunuh diri sejak usia 12 tahun. Dinamika psikologis saya sedikit rumit. Mungkin karena saya juga sangat tertarik mencoba berbagai jenis terapi. Mungkin juga karena memang begitulah jalan kehidupan yang harus saya tempuh: agar saya bisa berbagi cerita mengenai terapi-terapi yang pernah saya jalani, agar saya bisa membantu orang-orang di sekitar saya melalui cerita dan pengalaman saya.

Kebutuhan setiap orang berbeda, setiap mental illness journey sangatlah personal dan unik. Setiap orang yang membutuhkan terapi akan berjodoh dengan terapisnya masing-masing, asal memang ada niatan untuk sembuh dan tidak malu untuk meminta pertolongan.

Jadi, Apa yang Saya Dapatkan?

Yang saya dapatkan adalah perasaan haru dan bahagia karena I survived! Karena bagi saya, depresi adalah ujian dari Tuhan yang menginginkan saya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya jauh menjadi lebih empatik dan bisa merasakan perasaan orang lain setelah saya depresi. Saya pun lebih berhati-hati dalam berbicara karena saya sudah mengalami sendiri betapa kata-kata dapat menghancurkan jiwa. Saya jadi mengenal siapa kawan dan siapa lawan yang sesungguhnya saat saya depresi. Karena saat saya berada di titik terendah hidup saya, di situlah saya tahu siapa yang benar-benar ada untuk saya.

Sekian dulu cerita saya. Semoga teman-teman yang sedang mengalami turbulensi emosi dapat menemukan jalan menuju penyembuhan.

Selamat berproses menjadi diri terbaikmu!

*Terapi seperti NLP, Kinesiologi, dan bahkan hipnoterapi masih dianggap pseudoscience. Biarpun saya memiliki latar belakang psikologi di S1 dan S2 saya. Saya cukup terbuka mencoba berbagai hal. Bagi saya, mencoba terapi alternatif dalam hal kejiwaan sama seperti mencoba terapi alternatif pada penyakit fisik seperti bekam, akupuntur atau bahkan batu celup ponari :P.

Tulisan ini juga di publish di blog pribadi penulis, svadharma.net

Let others know the importance of mental health !
Total
10
Shares